Yogyakarta – Mahasiswa Program Studi S1 Administrasi Rumah Sakit Universitas Alma Ata (UAA) kembali menunjukkan keaktifannya dalam menggali ilmu langsung dari lapangan. Sebagai bagian dari tugas akhir blok Human Resource Management, kelompok mahasiswa yang terdiri dari Daffa Atmagora, Nur’afni Dwi Rahmawati, Nafisah Khansa Awidar, Cytha Aulia Queen, dan Salfa Nala Akmaliana melaksanakan kunjungan observasi ke Rumah Sakit Khusus Bedah (RSKB) Ring Road Selatan, Yogyakarta.

Kegiatan ini dibimbing langsung oleh dosen pengampu Imram Radne Rimba Putri, S.Kep., Ns., MMR, dengan tujuan untuk memahami secara mendalam praktik nyata manajemen sumber daya manusia (SDM) di fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan memadukan teori di kelas dan praktik di lapangan, Prodi S1 Administrasi Rumah Sakit Unggul dan terbaik di Yogyakarta ini terus berupaya melahirkan tenaga profesional yang kompeten dalam memanajerial fasilitas kesehatan modern.

Pentingnya Manajemen SDM di Rumah Sakit

Dalam laporannya, para mahasiswa menyoroti bahwa rumah sakit merupakan bisnis jasa yang sangat bergantung pada SDM untuk operasionalnya. Pengelolaan SDM yang baik, mulai dari perencanaan hingga penilaian kinerja, menjadi kunci utama dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

RSKB Ring Road Selatan, yang berfokus pada layanan bedah spesialis, menjadi lokasi studi kasus yang menarik karena kompleksitas kebutuhan tenaganya. Mahasiswa mempelajari bagaimana rumah sakit ini menyusun perencanaan tenaga kerja tahunan melalui analisis beban kerja yang melibatkan seluruh kepala instalasi dan unit.

Melalui wawancara dengan staf HRD RSKB Ring Road Selatan, mahasiswa mendapatkan gambaran komprehensif mengenai siklus manajemen SDM:

  • Rekrutmen dan Seleksi: Proses rekrutmen dilakukan secara ketat melalui seleksi administrasi, psikotes, tes akademik, hingga uji kompetensi teknis dan wawancara dengan pimpinan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan tenaga medis dan non-medis yang kompeten dan sesuai dengan standar pelayanan.
  • Pengembangan Karir: Rumah sakit menerapkan sistem mutasi dan rotasi berdasarkan kompetensi dan minat pegawai. Tujuannya adalah untuk penyegaran suasana kerja (mengurangi kejenuhan) serta menempatkan pegawai di posisi yang paling sesuai dengan keahlian mereka, misalnya memindahkan perawat yang lebih cocok bekerja mandiri dari rawat inap ke IGD.

Penilaian Kinerja dan Penghargaan: Evaluasi kinerja dilakukan secara objektif dengan melibatkan masukan dari berbagai unit terkait (360 derajat). Hasil penilaian ini digunakan sebagai dasar untuk pelatihan dan pengembangan. Menariknya, rumah sakit menerapkan sistem reward and punishment terkait kedisiplinan yang unik, di mana denda keterlambatan dikelola kembali untuk kesejahteraan dan kegiatan motivasi karyawan seperti outing.